Rabu, 22 Oktober 2014



Hari ini orang memanggilku Nama, mungkin esok orang memanggil ku Almarhum/ Almarhumah.
Hari ini aku memakai pakaian yang indah & mewah, mungkin esok aku akan memakai kain kafan.
Hari ini aku berpijak di atas tanah, mungkin esok aku terbujur di bawah tanah.
hari ini aku berjalan dengan naik motorku, mgkin esok aku berjalan naik kerandaku
hari ini mungkin aku bangga dengan prestasi yang ku gapai, tapi apakah aku masih bisa berbangga hati ketika ku bertemu denganNya?
hari ini mgkin banyak orang yang senang denganku, tapi apakah masih banyak orang yang senang dengan kepergianku?
Hari ini aku bisa mandi sendiri, mungkin esok aku di mandikan orang lain.
Hari ini aku shalat di belakang imam, mungkin esok aku di shalatkan di depan imam.
Hari ini aku bahagia bersama orang2 di sekelilingku, mungkin esok aku sendirian di sana.
disana rumah impian, yang sedang ku bangun saat ini, mungkin tiang rumah itu masih rapuh untuk ku tinggali saat ini
mungkin.. saat ini lampu rumah itu masih redup cahaya untukku bisa tempati
mungkin rumah itu masih kurang lapang untukku bisa tinggali
mungkin rumah itu...?? oh rumah impian, tak seorangpun yang tau kapan aku bisa tempati mgkin hari ini ataukah esok,??


bukan wanita lemah yang setiap harinya mengeluarkan air mata.
bukan wanita lemah ketika air mata membasahi pipinya saat ia mendengar berita kebahagiaan.
bukan wanita lemah ketika air mata mengghiasai pipi merahnyadisaat mendengar berita kematian
bukan wanita lemah ketika air mata jatuh membasahi bumi yang ia pijak.
tapi air mata wanita merupakan kelembutan hatinya.
terkadang air mata salah satu cara untuk ia bercerita tentang hatinya saat tak kuasa oleh kata.
kamu tak pernah berfikir bahwa kekuatan yang dimiliki wanita bisa melebihi kekuatan seorang laki-laki.
terkadang engkau melihatnya dengan sebelah mata, wanita itu begitu lemah dan rapuh.
apakah kamu pernah berfikir bahwa wanita itu dapat mengatasi beban, bahkan melebihi beban laki-laki.
dia mampu menyimpan kebahagiaan dan pendapatnya sendiri.
wanita mampu TERSENYUM bahkan saat hatinya menjerit.
WAnita mampu bernyanyi saat ia menangis, menagis saat terharu. bahkan tertawa saat ketakutan.
dia berkorban demi orang yang dicintainya.
mampu berdiri melawan ketidak adilan.
dia menerjunkan dirinya untuk keluarganya.
ya.. kali ini air mata itu tak mampu ku bendung saat hati berharap lebih kepada harapan-harapan semu
seringnya aku lupa dengan harapan kepada manusia. karna sesungguhnya aku telah mempersiapkan diri untuk kecewa.
ya kecewa. hanya saja hati yang kecewa bisa terobati dengan taunya tujuanku yang sebnarnya itu apa
tidak semua manusia mengerti segala perasaan. karna perasaan adalah bahasa jiwa.

Senin, 20 Oktober 2014

Allah Ta’ala berfirman:
هُوَ الَّذِي أَنزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُّحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ ۖ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ ۗ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ ۗ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِّنْ عِندِ رَبِّنَا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ بَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ رَبَّنَا إِنَّكَ جَامِعُ النَّاسِ لِيَوْمٍ لَّا رَيْبَ فِيهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُخْلِفُ الْمِيعَادَ
Dialah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami”. Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)”. “Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengumpulkan manusia untuk (menerima pembalasan pada) hari yang tak ada keraguan padanya”. Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji” (QS. Al Imran: 7).

Al Allamah As Sa’di setelah menjelaskan tafsir ayat ini beliau mengatakan:
“Allah Ta’ala memuji orang-orang yang mendalam ilmunya dengan 7 sifat, yang merupakan sumber kebahagiaan bagi setiap hamba, yaitu:
  1. Ilmu. Yang merupakan jalan menuju kepada Allah. Yang menjelaskan hukum-hukum Allah dan syariat-Nya.
  2. Kedalaman ilmu. Ini merupakan derajat yang lebih tinggi lagi daripada sekedar berilmu. Karena keilmuan yang mendalam berarti ia memiliki ilmu yang kokoh dan kebijaksaan yang mendalam. Allah telah memberikan ilmu kepada orang tersebut baik yang zhahir maupun yang batin. Maka kedalaman ilmunya itu bisa mengungkap hal-hal yang nampak samar dalam syariat ini, baik dalam ilmu, keadaan dan perbuatan.
  3. Allah menyifati mereka bahwa mereka itu beriman dengan seluruh kitab Allah, dan mereka itu senantiasa mengembalikan ayat yang mutasyabihat kepada yangmuhkamat dan berkata, “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami
  4. Mereka meminta kepada Allah ampunan dan pertolongan agar terhindar dari apa yang menimpa orang-orang yang sesat dan menyimpang
  5. Mereka mengakui nikmat Allah berupa hidayah dengan perkataan mereka, “Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami“.
  6. Dengan semua ini, mereka juga meminta limpahan rahmat Allah, yang disana tercakup tercapainya semua kebaikan dan terhindarnya semua keburukan. Dan mereka juga ber-tawassul dengan nama Allah: Al Wahhab.
  7. Allah mengabarkan bahwa mereka itu beriman dan yakin terhadap hari Kiamat dan mereka takut kepadanya.
Dan inilah semua yang wajib diamalkan agar terhindar dari kesesatan” (Taisir Karimirrahman, 123)
Penulis: Sukainah bintu Muhammad Nashiruddin Al Albani
Penerjemah: Yulian Purnama

Artikel Muslimah.Or.Id